Agar Perpustakaan Kembali Semarak di Era Digital

By | November 4, 2023


Rendahnya minat membaca terutama membaca buku merupakan masalah yang sangat serius di Indonesia. Berdasarkan informasi dari situs resmi Kementrian Keuangan Republik Indonesia, menurut data dari UNESCO, hanya 1 dari 1000 orang atau sebanyak 0,001 persen masyarakat Indonesia yang aktif membaca. Selain itu, dilansir dari Republika, Badan Pusat Statistik tahun 2022 menyebut bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara keseluruhan berada di angka 59,52 dengan durasi membaca 4-5 jam per minggu dan 4-5 buku per triwulan. Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih suka untuk menonton tv atau berselancar di media sosial ketimbang membaca buku.

Kurangnya minat membaca di Indonesia menandakan bahwa minat masyarakat untuk ke perpustakaan sebagai ekosistem yang mendukung masyarakat untuk membaca juga rendah. Salah satu alasan memudarnya minat masyarakat ke perpustakaan itu karena perpustakaan dianggap sebagai tempat yang membosankan. Sebagian perpustakaan hanya dikenal sebagai tempat membaca atau meminjam buku, serta tidak mengikuti perkembangan teknologi digital. 

Di tengah menjamurnya teknologi digital, eksistensi perpustakaan tetap diperlukan. Di perpustakaanlah, masyarakat dapat menikmati buku yang berkualitas dan terseleksi, serta berkumpul untuk melakukan diskusi dan aktivitas produktif lainnya. Namun, perpustakaan harus mengikuti perkembangan zaman jika ingin tetap bersaing di era digital ini. Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan perpustakaan agar tetap hidup:

1. Memperluas fungsi perpustakaan dan menyediakan sarana pendukung

Perpustakaan akan menjadi tempat yang membosankan jika hanya difungsikan sebagai tempat membaca atau meminjam buku. Tidak ada salahnya perpustakaan juga dilengkapi oleh kegiatan-kegiatan lain seperti menyediakan seminar dan pelatihan keterampilan, menggelar acara hiburan seperti konser pada waktu tertentu, dsb. Dengan adanya berbagai kegiatan, masyarakat dapat berinteraksi satu sama lain. 

Selain menyediakan berbagai macam kegiatan, perpustakaan juga dapat menyediakan sarana dan fasilitas pendukung seperti tempat bermain untuk anak-anak, kafe/restoran, hingga co working space. 

2. Menyediakan komputer dan akses internet

Mengingat kapasitas perpustakaan untuk menampung buku konvensional itu terbatas, sudah saatnya perpustakaan menyediakan sarana untuk mengakses e-book. Untuk itu, setiap perpustakaan harus menyediakan komputer agar masyarakat dapat membaca e-book dan berbagai referensi digital lainnya. Selain untuk memudahkan pengunjung dalam mencari referensi, komputer bisa memudahkan pengunjung perpustakaan untuk mencari buku.

Tak kalah penting, perpustakaan tidak boleh lupa untuk menyediakan akses internet gratis dan cepat melalui Wifi. Bila memungkinkan, sediakanlah wifi khusus untuk siswa atau mahasiswa yang ingin belajar secara daring. Dilansir dari situs Fortune IDN, dalam laporan bertajuk Profil Internet Indonesia 2022, Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII), menyatakan jumlah penduduk Indonesia yang telah terkoneksi dengan internet pada kurun 2021-2022 mencapai 210 juta orang. Data tersebut menggambarkan bahwa penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 77,02 %. Mudahkanlah pengunjung perpustakaan dengan menyediakan internet terbaik. Pastikan internet tersedia di setiap sudut perpustakaan.

3.   Memaksimalkan platform komunikasi digital

Sudah bukan zamannya lagi kalau perpustakaan hanya menunggu pengunjung untuk datang. Mereka harus proaktif untuk mengajak masyarakat terlebih dahulu untuk datang ke perpustakaan. Berbagi platform komunikasi digital seperti media sosial hingga situs resmi (website) dapat dijadikan sarana untuk memudahkan komunikasi serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat. 

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial yang sangat banyak. Dilansir dari Gatra, berdasarkan laporan dari We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia pada awal tahun 2022 itu mencapai 191 juta atau 70 % dari seluruh penduduk Indonesia. Dengan menyediakan media sosial di perpustakaan, perpustakaan dapat membangun kesan bahwa mereka adaptif dengan perkembangan zaman dan masyarakat.

4.    Komunikasi secara intensif dengan pengunjung

Setelah perpustakaan menyediakan fasilitas dan teknologi digital, mereka perlu untuk membangun komunikasi yang intensif dengan masyarakat. Alangkah baiknya perpustakaan mendata para pengunjung seperti nama, no telepon, email dan media sosial dengan menyediakan formulir. Dengan mempunyai data ini, perpustakaan dapat mengupdate secara rutin program dan kegiatan yang ada di perpustakaan kepada pengunjung. Pengunjung pun dapat lebih mudah untuk memberi kritik atau masukan yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan layanan perpustakaan. 

Namun, perlu diingat bahwa pihak perpustakaan tidak boleh memaksa pengunjung untuk memberikan data kontak, atau hal-hal lain yang sensitif.

5.   Membangun komunitas berbasis perpustakaan

Membangun komunitas sangat diperlukan untuk membangun keterikatan masyarakat dengan perpustakaan, serta menjadikan perpustakaan sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakat. Komunitas berbasis perpustakaan dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, seperti menyediakan grup whatsapp atau telegram perpustakaan, atau menyediakan komunitas berbasis hobinya seperti klub olahraga, klub music, dsb. Masyarakat akan semakin antusias untuk meramaikan perpustakaan jika mereka merasa diperhatikan dan dilibatkan untuk berpartisipasi.  

Menghadapi persaingan yang semakin ketat di era digital ini, perpustakaan harus melek dengan perkembangan teknologi digital dan terus berinovasi untuk mengikuti kebutuhan masyarakat. Kuncinya, jadikanlah perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan dan kekinian agar terus diminati oleh masyarakat.

Referensi:

Sihombing, J. C. (2022, July 27). “Membaca, to kill time or to full time.” “Membaca, to kill time or to full time”. Retrieved December 28, 2022, from https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-sidempuan/baca-artikel/15159/Membaca-to-kill-time-or-to-full-time.html#:~:text=UNESCO%20menyatakan%20dari%201000%20orang,di%20Indonesia%20baru%20mencapai%200%2C001. 

Kelana, I. (2022, September 9). Minat Baca masyarakat Perlu Ditingkatkan, KBI Ajak Masyarakat Gemar Membaca. Republika Online. Retrieved December 28, 2022, from https://www.republika.co.id/berita/rhwxl3374/minat-baca-masyarakat-perlu-ditingkatkan-kbi-ajak-masyarakat-gemar-membaca

Firmansyah, L. M. (2022, November 2). Berapa Pengguna Internet Indonesia per 2022? Berikut Datanya. fortuneidn.com. Retrieved December 28, 2022, from https://www.fortuneidn.com/tech/luky/berapa-pengguna-internet-indonesia-per-2022-berikut-datanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *